Page Tab Header

Thursday, October 13, 2016

Pak Irwan



Pak Irwan 



Laju sepeda motor yang dikemudikan Pak Irwan semakin cepat dan menyalip mobil angkutan di depan kami. Aku hanya diam, duduk dengan tenang di belakang boncengan, sesekali menjawab pertanyaan laki-laki tersebut atau memintanya untuk mengulanginya, karena suara bising kenderaan di sepanjang jalan membuat suara Pak Irwan tidak begitu jelas terdengar.
Memang hari ini lalu lintas begitu padat, tidak biasanya. Kecepatan sepeda Pak Irwan sedikit mulai stabil, tanganku yang sejak tadi terus merangkul tubuhnya yang besar, sedikit nakal menggoda laki-laki tersebut, dan memukul tanganku
saat tanganku yang nakal meremas kontolnya.
"Jangan main-main" ucapnya sambil tertawa.
"Sudah tak tahan Pak" bisikku dan Pak Irwan tertawa lagi.
Tanganku mengelus-elus dadanya yang dibalut oleh jeket tersebut, badannya dan punggungnya tak
lepas dari elusan tanganku. Laki-laki tersebut tertawa dengan kekonyolan yang aku buat padanya, yang pasti dia sangat menyukainya.
Cukup lama aku mengenal Pak Irwan. Laki-laki yang sangat baik dan dermawan. Karena beliaulah aku dapat meneruskan sekolah ke Lanjutan Pertama. Laki-laki tersebut membiayai sekolahku dari kelas 4 SD sampai sekarang. Dan bukan itu saja ketiga adikku juga. Laki-laki tersebut sangat budiman, aku banyak berhutang budi padanya. Inang tak bisa menahan harunya saat Pak Irwan mengulurkan bantuan pada keluargaku dan memberikan modal kepada Inang untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah. Sejak meninggalnya Amang, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Inang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya. Sebagai anak laki-laki yang paling besar, aku sedikitnya terpanggil untuk membantu meringankan beban Inang, walau usiaku masih sangat-sangat muda untuk bekerja. Umurku 11 tahun dan sudah setahun yang lalu sudah meninggalkan bangku sekolah
karena faktor biaya.
Dari hasil barang-barang bekas yang aku dapatkan, sedikitnya membantu Inang untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Dan seperti biasa aku berkeliling mencari barang-barang bekas dari tempat-tempat sampah orang kaya dengan karung goni yang selalu setia di atas pundakku, sementara sebuah gancu mengaduk-aduk tempat-tempat sampah tersebut, mencari barang bekas yang laku untuk dijual.
Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.
Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.
"He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini".
Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku
dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.
"Maaf, Bang" ucapku dengan sura terbata-bata.
"Aku pikir ember ini tidak dipakai lagi" dengan suara gagap ketakutan.
"Letakkan lagi di tempatnya semula, kalau tidak saya panggil polisi"
"Maaf, Bang, jangan.. Jangan panggil
polisi Bang" ucapku lagi memohon
dan hampir menangis dan
meletakkan ember bekas tersebut ke
tempatnya semula.
"Sini kau!" bentak laki-laki tersebut
dan saat aku mendekatinya, laki-laki
tersebut langsung menarik kupingku,
menjewernya dengan kuat.
"Kecil-kecil sudah jadi maling,
besarnya mau jadi apa, ah?"
"Ampun Bang, aku pikir ember itu
tidak dipakai lagi, aku baru kali ini
melakukannya".
"Sudah mencuri, bohong lagi" bentak
laki-laki tersebut dan semakin kuat
tangannya menjewer kupingku.
"Ampun Bang, ampun" ucapku
memohon menahan sakit sehingga
aku menangis.
"Kurang ajar, apa tidak pernah
diajarkan orang taua kau, ah"
Aku hanya diam menunduk, laki-laki
tersebut melepaskan tangannya pada
kupingku dan memeriksa karung
goniku.
"Apa kau tidak sekolah, ah" bentak
laki-laki itu lagi dan aku mengangguk
menjawabnya.
"Malas, ah?, mau jadi apa kau ini,
sudah tidak sekolah, maling dan
sudah besarnya mau jadi rampok
yah?"
"Tidak Bang" jawabku.
"Lalu apa?"
"Inang tidak punya uang untuk
menyekolahkan kami"
Laki-laki tersebut menatapku tajam,
menyimak perkataanku, memastikan
apa aku berbohong atau berkata
benar padanya. Perasaan lega saat
aku di suruh pergi juga akhirnya dan
memenuhi janjinya untuk tidak akan
menampakkan mulalu di sekitar
rumahnya lagi. Berbagai sumpah
serapah aku ucapkan dengan pelan
pada laki-laki tersebut sambil
meninggalkan pekarangan belakang
rumahnya.
Sebulan kemudian tanpa sengaja aku
bertemu dengan laki-laki galak
tersebut dan sedikit terkejut saat
laki-laki tersebut mengajakku ke
rumahnya dan memberikan ember
yang pernah aku incar beserta
barang-barang bekas lainnya. Mimpi
apa aku semalam, begitu banyak
barang-barang bekas yang aku
dapatkan hari ini, gumamku.
"Satu karung saja kau bawa dulu,
yang satu tinggalkan dulu, nanti kau
jeput"
Aku mengikuti saran laki-laki
tersebut. Dan hari-hari berikutnya,
laki-laki tersebut memberikan
barang-barang bekas yang tidak
dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku
ternyata salah, laki-laki tersebut
ternyata sangat baik dan selalu
menasehatiku. Aku jadi malu
mengingat kejadian pertama kali itu
dan beberapa kali meminta maaf
padanya atas kekeliruanku. Karena
ember bocor aku jadi berniat
mencuri, karena ember bocor aku
jadi malu dan karena ember bocor itu
juga aku mengenal Pak Irwan.
Suatu hari, Pak Irwan melihat sendir
keadaan keluargaku.
"Hanya rumah berdinding tepas inilah
peninggalan Amang anak-anak" ucap
Inang.
"Ido sangat membantu saya,
penghasilannya dari barang-barang
bekas itu bisa menambah untuk
membeli beras dan lainnya,
sementara sya bekerja di pasar jadi
kuli angkat barang atau membantu
pedagang menjual barangnya kalau
dminta".
Singkat cerita, aku beserta adikku
diangkat Pak Irwan sebagai anak
angkatnya, dan aku tidak perlu
mencari barang-barang bekas lagi.
"Kau harus sekolah dan juga Adik-
Adik mu, sekolah yang rajin biar
pintar dan suatu saat kalau sudah
kerja kan bisa bantu Inang" pesan
Pak Irwan.
Walau aku bukanlah tergolong anak
yang pintar, namun aku selalu
menurut, mengikuti nasehat Bapak
angkatku itu, dan juga Bapak angkat
bagi ke tiga adikku, tapi bagimana
dengan Inang? Apa Pak Irwan
mengangkatnya sebagai anak?
Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak
Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana
mungkin, tapi jika Pak Irwan mau
mengawini Inang, pasti kami akan
tinggal di rumahnya yang besar, kami
jadi orang kaya, tapi mana mungkin,
Pak Irwan khan sudah punya isteri
yang cantik dan baik hati, yang pasti
kalau Pak Irwan kawin dengan Inang
ceritanya akan berubah pastinya yah.
Karena usiaku yang sudah 11 tahun,
aku dimasukkan Pak Irwan ke kelas
4 SD, padahal kelas 3 pun aku belum
tamat, tapi karena dia seorang guru
dan banyak kenalan, akhirnya aku
diterima di kelas 4 SD walau harus
dalam masa percobaan terlebih
dahulu. Kami hanya disuruh belajar
dan belajar, semua kebutuhan kami
di subsidi Pak Irwan. Laki-laki
tersebut pun memberi modal kepada
Inang untuk membuka warung kecil-
kecilan di rumah, sehingga lebih
membantu kami lagi.
Kata-kata yang mengandung makna
berupa nasehat selalu disampaikan
kepadaku sehingga memacuku untuk
belajar lebih giat lagi agar cita-citaku
tercapai dan akan menunjukkan
kepadanya bahwa pertolongannya
tidak sia-sia.
Setahun kemudian
Seperti biasa, sepulang sekolah aku
mampir ke rumah Pak Irwan, masuk
dari belakang rumah, seperti
layaknya seperti rumahku sendiri,
mencari keberadaan Pak Irwan,
memberi kejutan kepadanya. Melihat
laki-laki tersebut yang sedang duduk
santai di sofa sambil menonton TV,
akupun mendekatinya dengan
perlahan.
"Kena" ucapku sambil menutup kedua
matanya.
Pak Irwan menangkap kedua
tanganku dan menariknya sehingga
tubuhku terangkat ke depan, tangan
laki-laki tersebut memegang
celanaku, menariknya sehingga
badanku terjatuh ke sofa. Pak Irwan
ternyata tidak memberikan ampun
kepadaku lagi, badanku digelitikinya.
"Akhh.. Ampun.. Ampun Pak" ucapku
tertawa, kegelian, meliuk-liukkan
badanku.
Keakraban begitu memang sering
kami lakukan. Pak Irwan seperti
Bapak kandungku, selayaknya
keceriaan antara Bapak dan anak,
dan hanya dengan Pak Irwan baru
aku dapatkan. Laki-laki tersebut terus
menggelitiki badanku, tidak
menghiraukan aku yang memohon
meminta ampun untuk menghentikan
permainannya, aku sampai
mengeluarkan air mata karena
bahagia.
Laki-laki tersebut tersenyum,
menghentikan permainannya,
menatapku sejenak dan dengan tiba-
tiba tangannya langsung mencaplok
kontolku, meremas-remasnya.
"Geli.. Geli.. Pak.." ucapku lagi sambil
tertawa.
Pak Irwan menarik tubuhku ke
depan, meletakkan kepalaku di
bantal kursi yang berada di bawah
pusarnya dan kembali tangannya
menjangkau kontolku, meremas-
remasnya.
"Akhh.. Bapak gete (genit)" ucapku.
Laki-laki tersebut hanya tersenyum
dan terus meremas-remas kontolku
yang berada di balik celana.
Mendengar sura desahan-desahan,
mataku tertuju ke depan TV dan
melihat permainan asyik laki-laki dan
perempuan di atas ranjang, dan
dalam keadaan telanjang bulat.
Bapak angkatku ternyata sedang
menonton film porno dan usiaku
yang baru 12 tahun, belum faham
betul permainan tersebut. Aku
menjadi tertarik dengan tontonan di
TV tersebut. Pak Irwan tersenyum
melihatku yang begitu serius
menonton adegan ngentot.
"Seius sekali kau" ucap Pak Irwan
memegang daguku.
Aku tersenyum, tersipu malu dan
saat itu pula Bapak angkatku
mengangkat bantal kursi dari
selangkangannya, kontolnya naik ke
atas, tegang dengan bulu-bulu yang
lebat dan ikal. Pak Irwan tersenyum
menatapku, aku baru sadar, ternyata
Bapak angkatku telanjang bulat.
"Bapak, tidak malu" ucapku
mengejeknya sambil tersenyum.
"Kenapa malu?, khan hanya ada anak
Bapak di sini" ucapnya sambil
tertawa, tangannya merangkul
pundakku, kepalanya dirapatkan ke
kepalaku dan Pak Irwan mencium
pipiku.
"Akhh, bapah tambah gete saja"
ucapku dan menghapus pipiku yang
habis diciumnya.
Pak Irwan tertawa lagi, meraih
tanganku dan meletakkan
www.ceritagay.uiwap.com
ke
kontolnya.
"Pegang kontol Bapak, kontol Arido
Bapak pegang juga" bisiknya
Tanganku merasakan batang keras
tersebut, sementara Pak Irwan
meremas-remas kontolku juga,
merasa tak puas, laki-laki tersebut
membuka retsleting celanaku dan
mengeluarkan batang kontolku yang
lemas.
"Wah, kontolmu ternyata panjang
juga" ucapnya melihat kontolku yang
menjulur dari lubang retsleting.
Tangan Pak Irwan menarik-narik
ujung kontolku yang terkatup,
kuncup. Aku termasuk orang yang
tidak sunat. Gerakkan-gerakkan
tangan Bapak angkatku yang
meremas-remas dan mengocok-
ngocok batang kontolku, membuat
kontolku semakin bereaksi, hidup,
membesar pada diameter batangnya
dan semakin panjang dari bentuk
semula dan kulit pada ujungnya
melebar, seiring kepala kontolku
yang membengkak, membesar.
"Wah, kalau Bapak tahu lebih dulu
kau punya batang kontol yang besar
dan panjang, Bapak langsung
menggarap Ido" ucapnya sambil
tersenyum.
Pak Irwan mencium pipiku lagi
sebelum pergi meninggalkanku dan
kembali tak lama kemudian dengan
membawa boneka perempuan
telanjang bulat tinggi dan ramping.
Laki-laki tersebut tersenyum dan
kembali duduk di sampingku.
"Bapak kenalkan dengan Madonna"
ucapnya padaku memperkenalkan
boneka tersebut dan
memberitahukan setiap organ tubuh
boneka tersebut.
Aku menolak saat Pak Irwan
menyuruh untuk menghisap-isap
puting payudara boneka tersebut,
Bapak angkatku memberi contoh, dia
langsung mengisap-isap puting
payudara boneka tersebut,
menjilatinya dan menarik-narik
puting payudara boneka tersebut
bergantian. Aku tertawa melihatnya.
Bapak angkatku seperti bayi yang
sedang menyusu pada boneka
tersebut.
Beberapa lama kemudian, Pak Irwan
memasukkan kontolnya ke dalam
mulut boneka karet tersebut yang
menganga lebar, tersenyum
melihatku, tangannya terus
menekan-nekan kepala boneka karet
tersebut.
"Madonna mau merasakan kontol
Arido, dia mau mengisap-isap kontol
Arido" ucap Bapak Angkatku.
"Enak Pak?" tanyaku.
"Geli dan enak" jawab Pak Irwan
sambil tersenyum dan membuka
baju dan celana seragamku.
Aku merasakan kegelian saat mulut
boneka tersebut keluar masuk
memakan batang kontolku.
"Geli.. Geli.. Pak" ucapku.
Pak Irwan tersenyum sambil terus
menggerak-gerakan kepala boneka
tersebut.
"Pak.. Gelii" ucapku lagi.
"Akhh.." desahku pelan dan pendek.
Bapak angkatku mengangkat boneka
karet tersebut, "Wah.. Air manimu,
tertinggal di dalam mulut Madonna"
ucapnya menunjukkan cairan kental
seperti ludah namun lebih kental lagi.
"Anak Bapak, kecil-kecil sudah
menghasilkan" ucap Pak Irwan lagi,
menambah kebingunganku lagi. Laki-
laki tersebut memelukku sambil
mengelus-elus rambutku.
Pak Irwan mengajakku ke kamar
mandi, mendudukkanku di sisi bak,
sementara Bapak angkatku tersebut
jongkok, tangannya meraih kontolku
dan.. Dan.. Bapak angkatku tersebut
menelan batang kontolku, menarik-
nariknya dengan mulutnya, dengan
gerakan cepat sehingga kontolku
bertambah besar kembali dan
memanjang. Pak Irwan mengocok-
ngocok batang kontolku, merapatkan
kedua bibirnya sehingga batang
kontolku terjepit, hingga batang
kontolku tenggelam samapai
pangkalnya. Tanpa pengetahuan dan
tidak tahuanku, aku membiarkan
Bapak angkatku melakukannya.
Kocokan-kocokan mulutnya pada
batang kontolku semakin enak saja,
geli rasanya.
Pak Irwan mengeluarkan batang
kontolku dari mulutnya, dan lidahnya
menari-nari, menjilati seluruh batang
kontolku dari ujung, kepala kontolku
sampai pangkalnya dan yang lebih
enak lagi, saat Bapak angkatku
menjilati biji kontolku, mengulumnya
satu persatu sambil menarik-nariknya
dengan mulutnya dan kedua biji
kontolku ditelannya sekaligus dan
menarik-nariknya untuk beberapa
lama laki-laki tersebut melakukannya
dan kemudian menelan batang
kontolku berikut kedua biji kontolku
secara bersamaan, kembali
menariknya dengan pelan.
Akkhh.. Geli dan enak aku rasakan,
hangatt..
Untuk beberapa lama Bapak
angkatku melakukannya, mengisap-
isap kontolku dan terus.. Terus dia
lakukan hingga hal yang sama aku
dapatkan seperti saat boneka karet
tersebut menelan kontolku, aku
merasakan gelii.. Gelii yang
mengenakkan dan Bapak angkatku
mengeluarkan batang kontolku dari
mulutnya dan menunjukkan cairan
kental dalam mulutnya. Cairan mani
kata Bapakku dan langsung
ditelannya.
Permainan berikutnya aku dapatkan,
dengan waktu yang di atur oleh
Bapak angkatku sendiri, sementara
aku merasa ketagihan dengan
permainan tersebut.
Hari yang telah ditentukan, rasanya
aku ingin pelajaran sekolah cepat
selesai, supaya aku dapat menemui
Pak Irwan dan memintanya untuk
mengajarkan permainan berikutnya.
Seperti yang sudah di jadwalkan,
kembali aku merasakan permaianan
Madonna dengan asuhan Bapak
angkatku, aku memperkosa lubang
kemaluannya, akhh.. Sangat enak..
Enakk.. Enakk, Pak Irwan
menyuruhku mendesah jika aku
merasakan nikmat.. Dan aku
melakukannya, sementara aku
mengentot Madonna, Bapak
angkatku menciumiku, mencumbu,
bibirku, melumat bibirku. Dengan
tekhnik-teknik dan ajarannya aku
pun mulai membalas setiap
cumbuannya. Hangat, nikmat aku
rasakan saat bibir Bapak angkatku
menyentuh bibirku dan melumat
mulutku. Setelah selesai dengan
Madonna, kembali Bapak angkatku
mengambil alih posisinya, seperti
biasa menelan batang kontolku,
mengocok-ngocoknya dengan
mulutnya, dan kembali air maniku
muncrat di dalam mulutnya, dan
ditelan langsung oleh Bapak
angkatku tersebut.
Malam itu, Pak Irwan menyuruhku
untuk ke rumahnya dan saat yang
aku nantikan akhirnya tiba, kebetulan
satu minggu itu aku tidak berjumpa
dengannya, Pak Irwan mengantar
istrinya pulang karena ada urusan
keluarga katanya. Kami akan
melakukannya malam itu sepuasnya,
yah sepuasnya. Aku juga sudah
sangat merindukannya terutama
kerinduan mulutnya yang akan
mengocok-ngocok kontolku yang
membuatku kegelian, keenakan,
kenikmatan, hingga tubuhku
mengejang seiring dengan air maniku
yang kental muncrat ke dalam
mulutnya.
Pak Irwan langsung mengajakku
masuk dan tanpa basa-basi lagi aku
menelanjangi pakaianku, sementara
Pak Irwan yang sudah bertelanjang
dada dan hanya memakai sarung
saja saat itu, langsung membuka
sarungnya dan Bapak angkatku
sudah tidak memakai apa-apa lagi.
Tubuhnya yang bulat, padat berisi
tanpa dibalut sehelai benangpun. Pak
Irwan menarik tanganku dan kami
berbaring di atas air bad yang sudah
terbentang di depan TV. Bpak
angkatku mengusap seluruh badanku
dengan baby oil, mengocok-ngocok
kontolku dengan minyak tersebut
hingga kontolku bertambah besar
dan panjang, berdiri tegak 90 derajat.
"Madonnanya mana Pak?" tanyaku.
"Kau tidak butuh lagi" jawab Bapak
angkatku sambil tersenyum.
Bapak angkatku membaringkan
badannya ke air bad, terlungkup dan
menyuruhku untuk mengoleskan
Baby oil ke punggungnya, ke
pantatnya, kedua paha, betis dan
kakinya, kemudian laki-laki tersebut
menumpahkan sisa baby oil pada
belahan pantatnya, meraba-raba
lubang pantatnya, hingga terbuka
lebar, dan aku pun menaiki tubuhnya
sesuai permintaannya, keadaan licin
tubuhnya membuat tubuhku meliuk-
liuk di atas punggungnya.
"Enak Pak, enak sekali" ucapku memberi komentar, Pak Irwan tersenyum, dan memintaku untuk memasukkan kontolku ke dalam lubang pantatnya. Tanpa banyak tanya lagi aku melakukkannya dan menekan pantatku hingga batang kontolku amblas di dalam lubang pantatnya.
"Aakkhh.." desahku, betul-betul enak.. Nikmat.. Enakk.. Gelii..
Aku mulai menggerakkan pantatku perlahan, namun dasar nafsuku yang besar namun tenaga yang kurang, aku cepat mencapai puncak orgasme..
"Yah, istirahat dulu" saran Bapak dan akan aku lanjutkan kembali.
Aku tidak ingin berlama-lama beristirahat dan mengajak Bapak angkatku kembali untuk menyodomi lubang pantatnya dan aku berhasil melakukannya beberapa kali, sampai Bapak angkatku khawatir dengan fisikku yang tidak akan mampu lagi untuk melanjutkan permainan.
"Jangan dipaksakan, kita masih banyak waktu" ucapnya.
Aku yang sudah merasakan enak, geli dengan permainan yang barusan aku lakukan, meminta Bapak kembali untuk meyodomi lubang pantatnya dan Bapak angkatku tersebut kembali melayaniku.
"Permainan ini, betul-betul enak, gelii, gelii, Pak" ucapku lagi.
Bapak angkatku hanya tersenyum.
Dan hari-hari berikutnya aku  meminta Bapak untuk menyodominya, memuaskan nafsuku yang sangat besar, dan Bapak dengan setia melayaniku, kami saling bercumbu, berciuman, memacu nafsu kami yang tak habis-habisnya. Aku menyukai Bapak angkatku, sama halnya dengan beliau lebih menyukaiku daripada istrinya, dia lebih terpuaskan dengan laki-laki muda dengan kontol yang besar dan panjang.Permainan kami terus berlanjut hingga sekarang, sepertinya terjalin perasaan cinta di antara kami, rasa sayang dan saling menyukai bukan antara anak dan Bapak lagi, tetapi mungkin seperti kekasih, kekasih sejenis, tidak ada sang istri.
Adakalanya Bapak bertindak sebagai istri atau sebaliknya dengan diriku sendiri, kami saling memuaskan, memacu gairah kami yang lagi panas, apalagi aku mulai tumbuh sebagai laki-laki remaja, dengan perubahan diriku yang nyata, suara, tubuhku, dan organ-organ tubuhku yang lainnya.
Kontolku semakin besar dan dengan panjangnya bertambah beberapa senti, dengan bulu-bulu yang tumbuh subur di sekita kontolku dan selalu di cukur Bapak angkatku, sehingga botak. Dia sangat menyukainya. Apa yang dia sukai otomatis aku menyukainya, aku memberikan semuanya untuk kesenangannya karena dia begitu banyak menolongku dan keluargaku. Atau apa karena aku menyukai laki-laki tersebut sejak awal, atau mungkin karena aku mencintainyakah?
Akhh, aku harap untuk selamanyaa..